Habibie: Kalau Saya Tidak Bekerja, Saya Mati

361
0
SHARE

Foto: Istimewa

HARIANKAMPAR.COM, Jakarta –
Kamu tahu BJ Habibie? Iya, mantan Presiden RI ketiga yang menggantikan posisi Soeharto setelah mengundurkan diri. Pria pemilik nama lengkap Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng ini bukan hanya pernah menjabat sebagai menteri dan mantan Presiden RI, ia juga banyak memberikan prestasi yang mengharumkan nama Indonesia.

Pria lulusan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, RWTH Aachen, Jerman Barat ini berhasil merancang pesawat N-250 yang produksinya dihentikan pascakrisis moneter 1997. Pesawat N-250 adalah pesawat penumpang sipil (airliner) regional komuter turboprop rancangan asli IPTN (Sekarang PT Dirgantara Indonesia,PT DI, Indonesian Aerospace), Indonesia.

Selain kecerdasan di bidang pesawat tersebut, BJ Habibie juga dikenal sebagai pria yang setia. Kisah cintanya kepada Bu Ainun sampai dibuatkan serial film berjudul “Habibie & Ainun”. Film yang mengisahkan tentang cinta pertama dan cinta terakhir, Presiden ketiga Indonesia dan ibu negara.

Keberhasilan yang dimilikinya saat ini bukanlah hasil dari ongkang-ongkang kaki. Habibie jatuh-bangun merintis karier dan menggapai impiannya.

Dalam sebuah podcast, Habibie berkata bahwa dirinya selama hidup ini tidak pernah berhenti bekerja, dan ia mengaku, mentalitas dalam hidup yang ia miliki itu adalah mentalitas sepeda.

“Saya tidak pernah tidak bekerja, ada orang pernah bertanya kepada saya, ‘Pak Habibie kok bisa begitu? Mentalitas apa itu?’ saya menjawab, ‘saya mentalitas sepeda, kalau Anda naik sepeda, Anda berhenti, Anda jatuh. Jadi kalau saya berhenti bekerja, saya mati,’” ungkapnya.

 

Meskipun roda kehidupan terus berputar dan ia kerap menerima berbagai benturan dan cemoohan, semangatnya tak pernah patah. Sampai kepulangan Ainun, meski hatinya patah, ia tetap berusaha bangkit dan kuat menjalani hari sampai dengan detik ini.

“Umur 80, kalau ditanya Habibie umur berapa? saya menjawab, ‘90 kurang 10, tapi jiwanya 17 tahun’ tidak ada bedanya,” jelasnya.

Semangatnya itu muncul dari motivasi yang selalu ia tanamkan dalam diri, “karena alasan-alasan tadi yang saya berikan, itu motivasinya, yang penting motivasi. Semangat saya itu datang atas keyakinan dan kesadaran bahwa saya ini manusia, produk dari masyarakat di mana saya hidup. Karena saya dan keluarga saya dulu dan sekarang dan masa depan adalah bagian terpadu dari masyarakat ini. Kalau masyarakat ini makmur, ya keluarga saya ikut makmur,” terangnya.

sumber : warta ekonomi